Kehamilan Yang Kudamba

“Iihhh… lucunya...,” demikianlah puji seorang wanita sambil menggendong anak berusia kurang lebih dua th. yang Mengenakan pakaian bermotif bunga-bunga. Sementara itu, si anak merengek dan meronta-ronta. Namun, wanita itu malah menciumi pipinya. “Siapa namanya?” tanyanya sambil mengalihkan anak kecil itu ke pangkuan seorang ibu muda. “Putri,” jawab ibu muda itu ramah, mengusahakan menutupi keheranannya atas sikap wanita itu, yang tanpa basa-basi segera menggendong dan menciumi pipi anaknya.

 

Potongan cerita di atas bukanlah prolog sebuah novel atau iklan sinetron, namun sebuah perumpamaan gampang mengenai tidak terkontrolnya emosi seorang ibu yang tak kunjung mempunyai momongan meskipun udah menikah lebih berasal dari sepuluh tahun. Padahal, berbagai usaha udah ia lakukan, berasal dari yang logis hingga yang mistis.

 

Benarlah ada dikala pasangan yang udah cukup lama menikah, namun tak kunjung mempunyai anak, akan merasakan kekurangsempurnaan. Terlebih sekiranya aspek ekstern, seperti orangtua ataupun mertua yang begitu bawel bertanya pada anak atau menantu mengenai kapan mereka akan “memberikan” cucu. Seolah yang berkuasa menghadirkan makhluk yang bernama manusia adalah anak dan menantu mereka. Malah, dalam berbagai kasus, tak jarang orangtua atau mertua sewot pada anak atau menantu sebab belum “dihadiahi” cucu

 

Permasalahan-permasalahan lain akan keluar sekiranya pasangan suami-istri tak lagi sejalan dan sejalan dalam hadapi persoalan tersebut. Bahkan, akan makin lama meruncing dikala masing-masing berasal dari mereka mengikuti ego spesial dan mengenyampingkan sikap empati. Misalnya saja, sebab malu selalu mengatakan belum mempunyai momongan dikala ditanya teman-temannya, suami melampiaskan rasa malu selanjutnya dengan bersikap kasar kepada istri. Di lain pihak, istri pun mengomel kepada suami sebab ibu mertua yang selalu menyindir mengenai “ketidakmampuannya”, “Ibumu tuh, dia pikir yang bisa mandul cuma perempuan. Dasar kolot. Dia nggak memahami kecuali laki-laki terhitung bisa mandul.”

 

Apabila kondisinya udah seperti itu, persoalan pokoknya tidak akan terpecahkan, yang keluar justru permasalahan-permasalahan lain sebab istri maupun suami akan mempertahankan harga diri masing-masing. Ketika itu pula, keharmonisan rumah tangga mulai goyah. Terlebih, kecuali masing-masing pasangan bertekad “membuktikan” siapa sebetulnya yang bermasalah. Misalnya, dengan berselingkuh.

 

Sebenarnya, persoalan di atas tak kudu terjadi dikala semua pihak –baik istri, suami, maupun orangtua dan mertua—menyadari bahwa anak semata-mata titipan Allah. Ia adalah amanah yang kudu dikerjakan cocok dengan niat Pemiliknya. Namun, permasalahannya justru terletak pada ketidaksadaran akan hakikat tersebut. Ketidaksadaran itu terjadi sebab kebanyakan manusia memasang nafsu atau permohonan di atas segalanya.

 

Allah udah menganugerahkan pada diri manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkannya, seperti terdapat dalam Al Quran,

 

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yakni wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak berasal dari style emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah area lagi yang baik (surga). ” (Q.S. Ali Imran 3: 14)

 

Berdasarkan ayat di atas, lumrah sekiranya manusia mempunyai kecenderungan cinta pada anak-anak. Namun, kondisi yang lumrah ini akan beralih manakala kecintaan selanjutnya pada selanjutnya menyengsarakan dan mengakibatkan seabreg permasalahan. Hal ini terjadi sebab kebanyakan manusia cuma mengikuti hal-hal yang cocok dengan kehendaknya. Bukankah kami pun kerap memaknai ayat di atas secara sepenggal saja? Yang kami melihat semata-mata mengenai kecenderungan manusia akan apa-apa yang diinginkan, cukup hingga di situ. Kita jarang (atau kemungkinan tidak mau) memaknai kata-kata selanjutnya, Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah area lagi yang baik (surga).

 

Bukankah dengan demikian, kami selalu mencocokkan ayat-ayat-Nya dengan permohonan kita? Padahal dengan cara seperti itu, selanjutnya kami akan menemukan jalur buntu. Jalan buntu yang dibuat sendiri, sebab kami berpaling berasal dari jalur keluar yang udah Allah sediakan. Pertanyaan lanjutannya adalah, “Mengapa kami berpaling?” Karena tidak nyambung dengan permohonan kita. Inilah yang mengakibatkan kami kerap melakukan tindakan membabi buta dalam hal ikhtiar mencapai sebuah target –yang dalam hal ini adalah memperoleh anak atau kehamilan—sehingga sekiranya usaha yang logis seperti memeriksakan diri ke dokter tak kunjung berhasil, kami pun beralih kepada hal-hal yang sifatnya mistis.

 

Ikhtiar apa saja yang bisa dikerjakan untuk memperoleh keturunan? Bagaimana sekiranya ikhtiar selanjutnya udah menyatakan kemajuan berupa tampaknya tanda-tanda kehamilan? Upaya apa saja yang kudu dikerjakan supaya kehamilan bisa terjaga dengan baik supaya hingga pada persalinan yang sehat?